Ilmu pengetahuan diciptakan untuk membantu
kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan lebih baik. Pada zaman yunani kuno
ilmu pengetahuan identik dengan filsafat dan dipengaruhi oleh pemikiran dari
filsafat barat. Yang dimaksud disini adalah antara filsafat dengan ilmu pengetahuan
tidak dipisah, sehingga pemikiran manusia pada zaman itu disebut filsafat.
Banyak ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Dari ilmu sendiri kemudian
muncul penemuan- penemuan yang berguna untuk masyarakat luas. Salah satu upaya
untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut
ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran filsafat.
Berkut perkembangan ilmu pengetahuan
berdasarkan filsafat-filsafat barat :
1.
Prapositivisme
Prapositivisme
dimulai pada masa filsuf Aristoteles, Aristoteles lahir di stagira, chalcidice,
thracia, yunani tahun 384 SM. Aristoteles merupakan murid dari Plato yang
merupakan seorang filsuf dan matematikawan yunani. Menurut Aristoteles ilmu
pengetahuan pada masa yunani kuno harus didasarkan pada pengertian dan
akibatnya hanya dapat dilaksanakan bagi aspek-aspek realitas yang terjangkau
pikiran. Filsafat dan ilmu
pengetahuan termasuk dalam pengertian episteme yang sepadan
dengan kata philosophia. Pemikiran tentang episteme ini
oleh Aristoteles diartikan sebagai an organized body of rational
konwledge with its proper object. Jadi filsafat dan ilmu tergolong
sebagai pengetahuan yang rasional. Dalam pemikiran Aritoteles selanjutnya
pengetahuan rasional itu dapat dibedakan menjadi tiga bagian yang disebutnya
dengan praktike (pengetahuan praktis), poietike (pengetahuan
produktif), dan theoretike (pengetahuan teoritis).
2.
Positivisme
Positivisme merupakan suatu faham
filsafat yang ditandai dengan pemikiran secara ”positif” terhadap ilmu dan
metode metode ilmiah. Positivisme dimulai pada permulaan abad
ke-19 di Parncis dan Jerman. Aliran positivisme merupakan aliran pemikiran
Auguste Comte yang lahir di prancis 17 januari 1798, kemudian aliran ini
dikembangkan oleh kelompok filosof asal wina diantaranya yaitu adalah Moritz
Schlick (1882-1936), Hans Hahn (1880-1934), Otto Neurath (1882-1945), Hans
Reichenbach (1891-1955), dan Victor Karft (1880-1975) dengan nama Neo-Positivisme
(positivisme logis).
Dasar pemikiran Comte
diperoleh secara inspiratif dari Saint Simon yang tidak lain adalah gurunya
sendiri, kemudian Charles Lyell, dan Charles Darwin. Selain dari itu, pemikiran
Herbert Spencer mengenai “hukum perkembangan” juga mempengaruhi pemikirannya.
Kata “rasional” bagi Comte terkait dengan masalah yang bersifat empirik dan positifyakni
pengetahuan riil yang diperoleh melalui observasi (pengalaman indrawi),
eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif diperoleh hukum yang
sifatnya umum sampai kepada suatu teori. Karena itulah maka bagi positivisme,
tuntutan utama adalah pengetahuan faktual yang dialami oleh subjek, sehingga
kata rasional bagi Comte menunjuk peran utama dan penting rasio untuk mengolah
fakta menjadi pengalaman.
Gagasan dasar
Comte dapat dikenali dari pemikirannya mengenai 3 tahap perkembangan sejarah
manusia yaitu :
Ø Teologis, Pada
tahap ini manusia memahami gejala-gejala alam sebagai hasil campur tangan
langsung kekuatan ilahi. Tahap ini dimulai dari
animisme yang menganggap benda-benda berjiwa dan diperlakukan suci.
Ø Metafisis, Pada tahap ini gejala alam diyakini berjalan berdasar pada
prinsip-prinsip metafisika. Prinsip-prinsipini dihasilkan melalui pemikiran
spekulatif yaitu berdasarkan percobaan-percobaan.
Ø Positivis, Pada
tahap ini yaitu cara memahami kehidupan dan semesta dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi.Alam dan kehidupan bukan lagi dipahami sebagai hasil campur tangan
yang ilahiah atau berdasar pada prinsip-prinsip spekulasi, melainkan sebagai
sesuatu yang pasti, nyata dan berguna.
Sedangkan filosof dari kelompok yang
berasal dari wina yaitu aliran positivisme logis adalah aliran positivisme yang
lebih memfokuskan lebih pada logika dan bahasa ilmiah. Salah satu prinsip yang
diyakini kaum positivisme logis adalah prinsip isomorfi, yaitu adanya hubungan
mutlak antara bahasa dan dunia nyata.
3. Postpositivisme
Setelah positivisme
ada postpositivisme, dari kata perkata terlihat sama tetapi maknanya berbeda,
setelah adanya positivisme muncul gugatan yang menanyakan kebenaran tentang
positivisme itu sendiri, yang dinamakan postpositivisme. Dengan kata lain
postpositivisme adalah pemikiran yang menggugat kebenaran-kebenaran
positivisme. Pemikiran ini digagas oleh sejumlah tokoh, seperti Karl R.Popper,Thomas Kuhn,para filsul Frankfrut
school,feyeraben,dan Richard rotry, pemikiran tokoh tokoh ini banyak
dipengaruhi penemuan neils bohr,Werner Heisenberg positivism tidak berlaku lagi
(setidaknya pada gejala-gejala subatomik).
Berikut ini di kemukakan beberapa asumsi dasar
post-positivisme,
1) Fakta tidak bebas melainkan
bermuatan teori.
2) Falibilitas teori.
3) Fakta tidak bebas melainkan penuh
dengan nilai.
4) Interaksi antara
subjek dan objek penelitian
5) Asumsi
dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.
6) Hal itu
berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal melainkan hanya bisa
menjelaskan dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.
7) Fokus
kajian post-positivis adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai
ekspresi dari sebuah keputusan.
Salah satu tokoh
yang dapat di kategorikan sebagai pemikiran post-positivisme adalah popper.ia
disebut post-positivisme karena pemikiranya pada satu sisi mencoba melepaskan
diri dari kecenderungan positivisme.popper misalnya mengkritik objektivisme
yang dianut comte,namun pada pemikirannya yang lain popper masih mengikuti
prinsip-prinsip positivisme. Postpositivisme merupakan perbaikan
positivisme yang dianggap memiliki kelemahan-kelemahan, dan dianggap hanya
mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti.
Postpositivisme adalah aliran yang ingin memperbaiki
kelemahan pada Positivisme. Satu sisi Postpositivisme sependapat dengan Positivisme
bahwa realitas itu memang nyata ada sesuai hukum alam. Tetapi pada sisi lain
Postpositivisme berpendapat manusia tidak mungkin mendapatkan kebenaran dari
realitas apabila peneliti membuat jarak dengan realitas atau tidak terlibat
secara langsung dengan realitas. Hubungan antara peneliti dengan realitas harus
bersifat interaktif, untuk itu perlu menggunakan prinsip trianggulasi yaitu
penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, data, dan lain-lain.
Jadi dengan ini kita bisa berfikir secara logis, berbicara
sesuai dengan fakta, karna manusia mulai mengubah pola pikir dari waktu ke
waktu dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan
alam atau apapun. Dan pada intinya aristoteles menemukan karyanya di
mana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti
Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang
prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika,
politik, dan bahkan teori retorika dan puisi. Pada abad ke 19 telah lahir pemikiran dari Auguste Comte yaitu
pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai
sarana dalam memperoleh kebenaran.
DAFTAR
PUSTAKA :
Purwo Santoso, Membedah Metodologi Ilmu
Politik, UGM, Yogyakarta, 2012
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat
Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, Bab III, Hal 87
William Rose, Positivism and Its Critique, London:
Sage Publications, 2011, Hal 459
David Marsh dan Paul Furlong, Ontology and
Epistimology Marsh, A Skin not
a Sweater: Ontology and Epistemology in. Political Science, 2002, Hal 18
Realitas sosial adalah semua hal yang nampak
Afan Gaffar, Dua tradisi, Yogyakarta,
1989, Hal 4, Bahan ajar mata kuliah Skope dan Metodologi Ilmu Politik
Purwo Santoso. 2014. Cakupan dan Metodologi
Ilmu Politik. Yogyakarta: UGM. Materi merupakan bahan ajar Mata Kuliah
CMIP 2014